“menghalalkan segala cara demi bertahan hidup karena
faktor ekonomi”
Permasalahan
Perekonomian


Masalah Perekonomian merupakan salah satu faktor yang memicu masalah sosial dalam individu, keluarga dan masyarakat. Keadaan ekonomi yang kurang menentu kadang membuat seseorang maupun seluruh anggota keluarga bertindak secara tidak rasional dan menghilangkan nilai moralnya, dan bahkan sudah kehilangan akal, yang mungkin terpaksa melakukan tindak kejahatan untuk memenuhi kebutuhannya.
Kesenjangan sosial
ekonomi merupakan perbedaan jarak antara kelompok atas dengan kelompok bawah.
Faktor-faktor yang
mendorong terjadinya kesenjangan sosial
ekonomi di masyarakat, antara lain:
a. Menurunnya
pendapatan per kapita.
b. Ketidakmerataan pembangunan di daerah-daerah.
e. Adanya pencemaran lingkungan alam.
Kesenjangan
sosial ekonomi dapat menimbulkan masalah di masyarakat, seperti munculnya
tindakan kriminal, adanya kecemburuan sosial, dan lain sebagainya. Oleh karena
itu, dalam masyarakat perlu adanya upaya untuk mengatasi kesenjangan sosial
tersebut.
Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesenjangan sosial ekonomi, antara lain:
Adapun beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kesenjangan sosial ekonomi, antara lain:
a. Memberikan
kesempatan kepada masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
b. Menciptakan
lapangan pekerjaan sebanyak mungkin.
c. Adanya
pemerataan pembangunan di daerah-daerah.
Sekarang ini terutama di Indonesia banyak sekali karena membutuhkan uang
untuk bertahan hidup, seseorang rela menghalalkan segala cara untuk mendapatkan
uang. Tidak peduli lagi apakah itu boleh atau tidak, baik atau tidak. Bahkan
sering kali membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tapi, itu semua tidak
dipedulikan karena itu harus dilakukan demi bertahan hidup. Hidup di zaman ini
memang serba sulit. Problem keseharian yang menumpuk sudah tidak jarang lagi
telah menempatkan seseorang untuk mengambil jalan pintas. Faktor ekonomi yang
tidak menentu inilah kemudian menjadikan seseorang menghalalkan segala cara.
Upaya untuk terus mampu bertahan hidup di tengah kondisi yang serba tidak
menentu dan carut-marut. Hal itu cenderung mengarahkan seseorang untuk bersikap
egoistik, memikirkan diri sendiri dan bahkan nekat melakukan tindak kriminal.
Mulai dari bentuk-bentuk premanisme, pencurian, perampokan hingga penculikan
anak yang kini kian marak.
Pencurian
Penculikkan
Dan salah satu kasus yang sangat meresahkan
masyarakat adalah penculikan pada anak-anak. Penculikan yang selalu saja
terjadi pada setiap harinya. Tentunya hal ini menjadikan para orang tua merasa
tidak aman dalam kesehariannya yang selalu saja dihantui ketakutan akan
keselamatan anak-anak mereka. Betapa tidak resah, seorang anak yang baru pulang
sekolah tiba-tiba diculik sekelompok orang dengan tujuan tidak jelas.
Merebaknya kasus penculikan anak di Jakarta dan kota-kota
besar lainnya di Indonesia sesungguhnya bukan lagi didasarkan atas balas dendam
atau yang lainnya seperti masa-masa terdahulu. Data di kepolisian menunjukkan bawah
kasus-kasus penculikan anak ini hanya sekedar untuk mendapatkan sejumlah rupiah.
Uang yang harus mereka dapatkan dalam waktu singkat. Artinya mereka benar-benar
hanya demi sejumlah uang dengan berbagai alasannya bukan dendam (sakit hati)
atau konflik antar keluarga.
Bergesernya motif inilah kemudian yang harus direnungkan bersama. Kalau dulu
penculikan ini bermotifkan atas bentuk balas dendam atau konflik keluarga, tapi
kini motif penculikan seperti itu sudah jarang lagi terjadi. Kini ada alasan
lain yang mengharuskan para penculik melakukan tindakan kriminal itu. Ialah
mempertahankan diri untuk dapat terus hidup di tengah situasi ekonomi yang
serba sulit. Persoalan pelik yang terus mencengkram sebagian besar masyarakat
bangsa ini.
Kemiskinan dan pengangguran yang terus meningkat drastis akhir-akhir ini
menempatkan situasi perekonomian mikro menjadi sangat rapuh. Ketidaksiapan
masyarakat dalam menghadapi arus pasar bebas dan globalisasi juga dibuatnya
kalang-kabut. Tatanan kehidupan yang terus berubah sangat cepat setiap saat
bahkan melebihi yang lainnya. Disaat-saat itulah seakan-akan dituntut untuk
dapat kompetisi. Kompetisi yang tidak lagi memandang bulu. Jika masih ingin
untuk tetap dapat terus melanjutkan hidup maka haruslah berhasil.
Tak heran, dalam kondisi seperti itu setiap individu pasti selalu memikirkan
pribadi masing-masing. Menganggap orang yang kurang beruntung lantaran mereka
sendiri yang kurang maksimal. Sedangkan bagi mereka yang terbilang sukses
beranggapan adalah hasil jerih payahnya sendiri. Menumpuk kekayaan tidak lebih hanya
untuk diri sendiri. Dalam hal ini jelas tidak ada lagi rasa kebersamaan dan
gotong-royong apalagi saling tolong menolong. Meskipun bangsa ini dikenal akan
semangat itu tetapi kini tidak lagi. Gelombang monernisasi telah merubah
paradigma perikehidupan masyarakat Indonesia.
Maka, jangan salahkan mereka para penculik yang hanya sekedar sesuap nasi harus
berani untuk mennggandol anak orang terlebih dahulu. Bukan untuk memberikan
justifikasi terhadap mereka para pelaku penculikan anak, tetapi saatnyalah untuk
bercermin diri. Orang kaya-raya lahir dari negeri ini disatu sisi, namun disisi
yang lain sangatlah banyak rakyat bangsa ini yang hidup jauh di bawah
rata-rata. Mana Indonesia yang kala dahulu dikenal makmur sumber daya alamnya
dan ramah masyarakatnya? Kini, yang ada hanyalah “Indonesia” dengan
masyarakatnya dipisah oleh jurang kesenjangan sosial yang sangat lebar dan
mereka hidup atas ketidakpedulian antar sesama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar